Rabu, 11 April 2012

Gali Ide dengan Sketsa

Bekerja menjadi Desainer Furnitur yang diekspor ke Amerika membuat Yoeswadi Wibowo harus jeli dalam menggali ide serta rajin meningkatkan skill. Keduanya ia dapatkan dari hobi mensketsa.

Pria yang akrab disapa Pakde Yoes ini bercerita bahwa kegemaran bersketsa sangat bermanfaat. Selain menjadi sarana refreshing dan meningkatkan kemampuan, sketsa juga berfungsi untuk menggali ide. Ia merasa seru saat berburu gedung-gedung tua untuk disketsa.

Stasiun Tugu. Gel Pen, Tinta Bak, Kertas Merang 20 x 40 cm.

“Banyak gedung tua yang bisa digali untuk ornamen desain, misal dari profil lisplang (bilah papan pada tembok bangunan-red) yang bisa diaplikasikan ke furnitur. Kebetulan di tempat saya desain mebelnya berbasis kolonial, sehingga sangat bermanfaat bagi saya,” jelas pria kelahiran Oktober 1974 itu.

Minggu siang, 8 April 2012 lalu, Pria yang tinggal di Sidoarjo dan aktif di IS Sidoarjo itu berkunjung ke Malioboro dan mengajak rekan-rekan IS Jogja untuk menyeket bersama. Pria yang rajin mengupload karyanya itu memang gemar menyeket ke berbagai tempat, seperti Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madura, dan Jakarta. Di Yogyakarta sendiri ini sudah ketiga kalinya ia bertemu dan menyeket bersama IS Jogja.

Kantor Bank BNI 46. Gel Pen, Tinta Bak, Kertas Merang 20 x 40 cm.

Sketsa sangat mendukung pekerjaan pria yang mempunyai putera Lintang, Langit, Sekar, Jagad itu. Dengan sket kita lebih memahami anatomi dan perspektif ruang. Selain itu, sketsa juga meningkatkan kecepatan sketnya. “Misal, karena ditunggu orang, maka dibutuhkan kemampuan sket cepat (untuk menggambarkan keinginan pemesan-red),” jelas Yoes.

Pria yang rajin membuat sketsa ini mulai aktif lives sketching sejak mengetahui ada komunitas Indonesia’s Sketchers. “Saya lebih punya banyak teman, bisa sharing dan bertemu,” jelasnya sumringah.

Kantor Pos Besar. Gel Pen, Tinta Bak, Kertas Merang 20 x 40 cm.

Suami dari Kaesti itu juga aktif di komunitas sketsa model di sanggar Akar Rumput milik Eyang Tholib Prasojo. Saat ini Pakde Yoes mengorganisasi kegiatan sket bersama di Sidoarjo. Setiap bulan diadakan pertemuan dengan peserta 15-20 orang. “Pesertanya hampir dari semua lapisan, misal pelajar, yang sudah bekerja, dan mahasiswa,” jelasnya kepada IS Jogja siang itu.***

Hasil Sketsa Bersama

"Bokong, Paha dan betis berotot di KM 0". Drawing pen 0.3, tinta cina + pensil warna. Hendra Arkan.

Gedung Bank Indonesia. Brush Pen, Kertas A4 Conqueror, Cat Air. Niken Anggrek Wulan.

Pak Becak Depan Monumen. Kertas Merang, Gel Pen. Pakde Yoes.

Berteduh karena panas, malah tertarik nyeket patung kaki dari bawah. Lokasi kawasan Nol Kilometer Yogyakarta. Drawing Pen pada Sketbuk A4. Richo Nurdini.

Kantor Pos Besar Yogyakarta. Drawing Pen, Kertas A5 Canson, Cat Air. Ayuk Purwandari.

Becak yang sedang Ngetem. Drawing Pen, Kertas A5 Canson, Cat Air. Ayuk Purwandari.


Jumat, 06 April 2012

Asyiknya Wisata Sejarah di Malioboro

Wisatawan yang gemar berlibur ke Jogja, mungkin sudah berkali-kali ke Malioboro. Jalan yang terletak di jantung kota itu memang tujuan utama kaum wisatawan yang datang ke kawasan untuk menikmati suasana atau berbelanja. Namun, sebenarnya pesona Malioboro tak hanya itu. Ia juga merupakan wisata sejarah yang seru.

Fascade Malioboro. Drawing Pen, Cat Air. Erick Eko Pramono.

Malioboro merupakan jalan yang membentang antara Tugu dan Keraton Yogyakarta. Ia merupakan bagian dari Kawasan Keraton Yogyakarta, yang mempunyai luas 14.000 m2.

Asal kata Malioboro disebutkan berbeda oleh beberapa sumber. Ada yang berpendapat Malioboro berasal dari nama seorang Jenderal Inggris yang bernama Malbourgh yang dinamai oleh Raffles ketika berkuasa di Yogyakarta pada jaman pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono II. Namun, ada juga yang menyebutkan bahwa Malioboro berasal dari kalimat Mulyane Saka Bebara, yang berarti Kemulyaan dan Kejayaan Hidup yang dicapai lewat laku keprihatinan. Hal itu sesuai dengan cita-cita Sri Sultan Hamengku Buwono I.

Peserta Sketching&Sharing di Kawasan Malioboro, Yogyakarta.


Untuk meningkatkan antusiasme wisata sejarah di Maliboro, Minggu, 18 Maret 2012 lalu, Indonesia’s Sketchers Jogja menyeketsa bersama berbagai objek wisata sejarah di Malioboro. IS Jogja bekerja sama dengan Komunitas Greenmap Malioboro yang menyumbangkan peta serta penjelasan masing-masing bangunan untuk kami jelajahi. Berikut ini beberapa sketsa yang dihasilkan (keterangan berikut dari Greenmap Malioboro). Selain hasil sketsa pada hari Minggu lalu, juga ditambahkan sketsa tentang Malioboro yang telah dilakukan IS pada kesempatan lain.

Perumahan “Taman Joewana”
Lokasi: Jl. Dagen
Perumahan Taman Joewana (baca Yuwono) ada sejak 1938, didirikan pada masa kolonial Belanda. Untuk mencapai tempat ini, anda harus masuk di tengah pemukiman penduduk lokal di keramaian Malioboro. Tanah yang dihuni oleh warga Arab, India, China, Belanda dan orang asing lainnya ini merupakan tanah wakaf dari Keraton Yogyakarta.


Tanah yg diwaqafkan oleh Kraton untuk pemukiman bangsa asing. Dulu merupakan taman bunga, tapi sekarang sudah beralih fungsi menjadi lapangan tenis. Yang unik ada pada pintu tamannya, berupa tangan mengepal diatas burung hantu disertai gambar daun, serangga dan komodo (simbol-simbol ini sangat asing bagi org jawa) kemudian juga terdapat tulisan aksara jawa kuno. Di beberapa rumah disekitarnya kebanyakan memakai patung tangan mengepal tersebut di halaman depannya. 02 Drawing pen on A5 paper. Alaik Azizi.

Minimarket Indomaret “Chemist Drugist”
Jl.Maliboro No. 179
Pada masa Hindia-Belanda, bangunan ini berfungsi menjual berbagai macam obat. Pada 29 Juni 199, menjadi Apotik Kimia Farma. Saat ini beralih menjadi Minimarket Indomart. Tampak depan ciri bangunan lama masih dipertahankan.


Chemist Druggist. Drawing Pen, Cat Air. Erick Eko Pramono.

Jam Kota/Ngejaman/Stadsklok
Jl. Ahmad Yani, dekat Mirota Batik.
Jam kota terletak di tengah pertigaan, depan Gereja Protestan Margomulyo yang dikenal sebagai Ngejaman. Jam kota ini didirikan tahun 1916 sebagai persembahan masyarakat Belanda untuk memperingati satu abad kembalinya Pemerintahan Kolonial Belanda dari Pemerintah Inggris yang sempat berkuasa di Jawa. Tempat ini digunakan sebagai tempat janjian untuk bertemu di kalangan masyarakat.

Kawasan Ngejaman. Kertas Hawaii dan Tinta Bak. Irwan Sukendra.


Kantor Larisa. Tipe rumah Belanda, dekat kawasan Ngejaman. Tinta China pada Sketbuk A4.
Richo Nurdini.

Benteng Vredeburg
Jl. Ahmad Yani No. 6
Benteng yang dibangun pada 1765 itu digunakan untuk mengawasi perkembangan Kesultanan Yogyakarta. Sempat berfungis sebagia markas pertahanan pasukan Jepang dan markas TNI pada masa kemerdekaan hingga 1992. Pada 1992, bangunan ini menjadi museum di bawah Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Benteng Vredeburg. Drawing Pen, Cat Air. Niken Anggrek Wulan.


Hotel Inna Garuda

Hotel Inna Garuda, Iman Sutejo.

Jl. Malioboro 60
Hotel Inna Garuda mempunyai sejarah pergantian nama sampai enam kali, Grand Hotel de Djogdja, Hotel Asahi, Hotel Merdeka, Hotel Garuda, Natour Garuda, dan sekarang Inaa Garuda. Pertama dibangun dengan bentuk cottage dengan nama Grand Hotel de Djogja tahun 1908 untuk tamu-tamu militer Belanda. Sempat diambil alih pemerintah Jepang (1938) dan menjadi Hotel Asahi sekaligus Percetakan “Matahari”. Saat Ibu Kota dipindahkan ke Yogyakarta, hotel ini digunakan sebagai Kantor Kabinet dan ketika Agresi Militer II tahun 1948 hotel ini merupakan markas tentara dipimpin Panglima Besar Jenderal Soedirman. Kamar No. 911 diabadikan sebagai Kamar Sudirman. Sejak Maret 2001, nama hotel menjadi Inna Garuda.

Societed
Jl Sriwedari No. 1
Dibangun sekitar akhir 1800 sebagai gedung pertemuan ikomunitas masyarakat Belanda. Bangunan yang sekarang ada menambahan bangunan di bagian belakang. Dari bangunan yang berdiri sekarang, 70%nya adalah tambahan. Bangunan aslinya hanya 30% yang terletak di bagian depan (tampak depan). Saat ini societed digunakan sebagai gedung pertunjukan yang merupakan bagian kompleks Taman Budaya Yogyakarta.



"Di bawah pohon beringin, berteduh" Makna pohon beringin sbg pengayom. Instansi pemerintah banyak memakai logo pohon ini dengan maksud dan tujuan mengayomi masyarakat #jadi geli :o Standing sketsa (iseng nutupin viewnya niken dan bimo) HVA A4 tipis. Ballpoint merchandise. Monocrome guitar, watercollour jadul. Padmana Grady Prabasmara.

Societed. Brush Pen, Cat Air. Niken Anggrek Wulan

Societed. Tinta bak, tusuk sate, kertas A4. Richo Nurdini.

Kediaman Kwan Nio Tio



Salah satu bangunan di daerah pecinan. Bangunan ini memiliki corak Eropa dibandingkan bangunan-bangunan di samping kanan-kirinya yang berbentuk khas China yaitu bangunan 2 lantai yang sebelah bawah digunakan untuk toko, sedangkan bagian atas untuk tempat tinggal. Di jalan Malioboro juga ada bangunan yang serupa dengan bangunan ini. 02 Drawing pen on A5 paper. Alaik Azizi.

Kantor DPRD Yogyakarta
Jl. Malioboro No. 54


Gedung DPRD. Drawing Pen 03, Cat Air, Kertas A4 Conqueror. Niken Anggrek Wulan.

Dibangun pada 1878 sebagai tempat berkumpul Theosofi Belanda Cabang Yogyakarta yang berpusat di Batavia. Merupakan perkumpulan aliran kebatinan untuk memanggil roh-roh orang yang sudah meninggal. Karea itu, gedung ini terkenal pula dengan nama Loji Setan atau Gedong Setan. Gedung yang kini berfungsi sebagai kantor DPRD ini pernah disinggahi Gubernur Jenderal Raffles pada 15 Mei 1912 saat Belanda berkuasa di Yogyakarta.

Pasar Beringharjo

Pasar Beringharjo merupakan pasar terbesar di Yogyakarta. Pasar merupakan salah satu bagian dari rancang bangun pola tata kota Kasultanan Yogyakarta. Pola itu biasa disebut Catur Tunggal. (Catur=empat; tunggal=satu) yang merupakan cakupan empat hal: Keraton (pusat pemerintahan), Alun-alun (ruang publik), masjid (tempat ibadah), dan pasar (pusat transaksi ekonomi). Sebelum tahun 1758, kawasan ini merupakan hutan beringin. Setelah berdirinya Keraton, kemudian dijadikan tempat jual beli oleh warga Yogyakarta. Selanjutnya pada 24 Maret 1925 dibangun sebuh pasar yang lebih representatif oleh Neerlansh Indisch Beton Maatschappij (Perusahaan Beton Hindia Belanda) yang membangun los-los pasar. Beringharjo berasal dari kata bering (beringin) dan harjo (kesejahteraan). (Sumber Tasyriq Hifzhillah jogjatrip.com).


Pasar Beringharjo dari Jl. Pabringan, sebelah selatan. Nggambarnya deket jemuran iwak peyek :) Drawing Pen, Kertas. Fauzi Muslim.

BBM naik turunkan BBM. BBM naik rakyat sengsara. Sketsa Pasar Beringharjo nangkring di samping Mirota Batik. sambil liat orang pada demo BBM. Sketchbook A4 kertas hawai (buatan sendiri) +gel pen+tinta cina. Supriyanti.
Suasana depan Pasar Beringharjo yang ramai. Drawing pen. Urip Tri Hasanah.

Pasar Beringharjo..."Harga BBM naik, rakyat sengsara!" (malah ini yg keinget). Critanya sketsa sambil ndengerin demo pesimistis kenaikan BBM. Drawing Pen, Cat Air. Shinta Rakhmawati.


Kawasan Pecinan, Jl. Ketandan
Ketandan Lor, bagian tertua di Pecinan Ketandan. Dulu, atas ijin Sri Sultan HB II komunitas Tionghoa menetap di utara pasar Bringharjo. Keuletan mereka dalam berdagang diharapkan dapat mendorong aktivitas pasar Bringharjo yang merupakan pusat kegiatan ekonomi pada masa itu. Dan kini, jalan Lor Pasar ini benar2 padat, pedagang kaki lima yang berjualan emas, barang jadul, uang kuno ikut menambah hiruk pikuk di sepanjang jalan ini. Karena aktivitasnya yang selalu ramai dan aksesnya yang sulit dilalui kendaraan bermotor, rumah toko pecinan di sini hanya sedikit mengalami renovasi sehingga masih banyak yang asli.
Media gambar: kertas A4, tinta cina, bambu, drawing pen 02. (bambunya bujel, jadi untuk garis tipis pake drawingpen). Pipit Puspita.





Pengepul emas di pinggir toko Jl. Ketandan. Tinta, kuas dan air. Hendro Purwoko.

Sumber tentang Malioboro: Heryanto, Mas Fredy. 2009. Mengenal Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Yogyakarta: Warna Mediasindo.

Kamis, 05 April 2012

Kota Tua Magelang

Berjalan-jalan di Kota Tua Magelang seperti melihat sebuah utopia di masa lalu. Alun-alun nan luas, Masjid dan Gereja yang megah, Kelenteng nan kokoh, sekolah yang indah, serta menara yang sanggup mengalirkan air jernih dari kaki gunung sumbing ke seluruh kota. Indah, itu adalah kata yang dibisikkan ketika melihatnya.

Kota Tua Magelang dibangun ketika Inggris menguasai Magelang dan mengangkat Mas Ngabehi Danukromo sebagai Bupati pertama. Selanjutnya ketika Pemerintah Inggris ditaklukan oleh Belanda, kota ini dijadikan kota militer karena tempatnya yang strategis. Sejak itu, sarana dan prasarananya terus berkembang. Menara air misalnya, dibangun pada 1918.

Berbagai cerita di Kota Tua itu coba kami telusuri dalam acara IS Jogja Sketching&Sharing 17 di Magelang, Jawa Tengah. Meski diguyur hujan, pukul 8.00 pagi kami berangkatmenuju Kota yang terletak di sebelah Barat Laut Yogyakarta itu. Perjalanan cukup singkat, 1 jam karena jalanan lengang. Setelah sampai, kami mencari objek sketsa masing-masing di sekitar Alun-alun Magelang.


Patung Pangeran Diponegoro di Alun-alun Magelang. Ranting di Alun-alun, dan tinta bak. Septa.

Masjid di seberang Alun-alun Magelang. Richo. Tinta Bak dan Cat Air.

Bangunan di samping masjid Magelang, kurang tahu namanya, tapi tulisannya: masih dalam renovasi. Anggita Nasution.

Gereja GPIB. Richo. Tinta Bak, Cat Air.

Gereja GPIB. Tinta China. Irwan Sukendra.


Pemandangan seputar Alun-alun Magelang. Fauzi Muslim. Drawing Pen.
Menara air dibangun oleh salah satu arsitek terkenal, Karsten. Di Jogja, Karsten membangun Sonobudoyo. Menara air dibangun pada 1926, yang berfungsi mengalirkan air bersih dari Gunung Sumbing. Urip Tri Hasanah. Drawing Pen.
Dahulu keturunan China cukup berkembang di Magelang dan mengembangkan perdagangan. Magelang merupakan jalur dari Jogja ke Magelang, merupakan jalur perdangangan yang dperhitungkan. Salah satu peninggalan yang sampai sekarang masih aktif digunakan adalah Kelenteng Lim Hok Gie. Di belakang bangunan Kelengteng terlihat atap restoran cepat saji KFC. Darajati Pertiwi. Drawing Pen.

Gereja Protestan Indonesia Barat dibangun pada 1826. Supriyanti. Tinta Bak, Cat Air.


Menara Air. Erick Eko Pramono. Tinta Bak, Cat Air.

Alun-alun Magelang sudah ada sejak Mataram baru. Di Magelang dulunya termasuk daerah perkebunan. Pada tahun 1810 oleh Inggris mulai dibangun. Erick Eko Pramono. Tinta Bak, Bambu, Cat Air.


Kweekschool, dibangun selama 50 tahun, 1876-1920. Membutuhkan waktu lama karena kompleksnya yang besar, terdapat ruang kepala sekolah, asrama, ruang guru, dll. Dulu pindaham dari sekolah tinggi Guru dari solo. Di sini tingkatannya paling tinggi, setara SMA. Untuk melanjutkan sekolah harus ke negeri belanda. Erick Eko Pramono. Tinta Bak, Cat Air.

Patung Diponegoro adalah salah satu Tetenger yang lumayan baru karena dibangun pada 1950-an. Patung Diponegoro dipilih sebagai tetenger karena kedekatan sosok Diponegoro dengan Magelang. Magelang merupakan Ibukota Karesidenan Kedu, dimana Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Belanda di Rumah Dinas Karesidenan Kedu. Darajati Pertiwi.

Pohon beringin Alun-alun Magelang. Dahulu ada dua, namun yang satu roboh. Adji Setiawan. Bolpoin di atas kertas.

Ini bukan menara pisa, walaupun gambarnya miring. Dan aslinya memang nggak miring XD Ini menara air (basa indonesia), watertoren (basa landa), watertower (basa inggris), kompor raksasa (basa magelang). Didirikan oleh Herman Thomas Karsten pada 1916. Dulu mencukupi kebutuhan air di seluruh Magelang. Sampai sekarang masih digunakan untuk masyarakat Magelang, Jawa Tengah. Kertas conqueror A4, drawing pen. Niken Anggrek Wulan.

Salah satu bangunan di komplek Kweekschool: jenjang pendidikan untuk menjadi guru pada zaman Belanda. Sekolah ini tertinggi di jamannya, karena pendidikan yang lebih tinggi harus ditempuh ke Belanda. Kompleknya yang luas, membuat waktu pembangunan yang dibutuhkan lama, yaitu selama 50 tahun. Komplek Kweekschool yang ini terletak di Magelang, Jawa Tengah. Gedung yang saya sket ini digunakan untuk gedung kesenian. Kertas Conqueror A4, drawing pen, cat air. Niken Anggrek Wulan.

Halaman muka Kweekschool. Tinta China. Irwan Sukendra.




Masjid Agung Magelang. Pertama kali dibangun pada tahun 1894. Atas prakarsa dari Sajid Alwi bin Achmad Danuningrat, Bupati Magelang I, semula masjid diberi nama Masjid Jami’ Magelang. Pertama kali mengalami pemugaran pada tahun 1932 pada masa pemerintahan Bupati Magelang ke IV, Sajid Achmad bin Saidanu Sugondo. Pemugaran dilakukan dengan perluasan bangunan dan penambahan serambi utara, selatan, dan sisi depan. Atas prakarsa bersama antara Bupati Kabupaten Magelang dan Walikotamadya Magelang dilakukan perluasan serambi pada tahun 1980-1981.http://pendekartidar.org/masjid-magelang.php

Sketchbook A4(kertas hawai)+tinta china+pen bambu. Supriyanti.

Masjid agung Magelang. Percayalah kalau saya sedang nggambar masjid agung. Hanya saja ketutup trafo, dan saya tdk mau geser. 02 drawing pen on A5 paper . Alaik Azizi.

Masjid Agung Magelang. Tinta China. Irwan Sukendra.

GPIB Magelang. Bangunan yg cukup kontras diandingkan bangunan2 sebelahnya. dg atap2 lancipnya, khas bangunan2 ghotic dan mirip di poster2 band ghotic metal. 02 drawing pen on A5 paper. dg duduk diatas tempat sampah berwarna hijau. Alaik Azizi.

Patung Pangeran Diponegoro yg ada di Alun-alun Magelang. Masak anak-anak punker yang nongkrong di sana bilang ini gambarnya Imam Bonjol. Yang bingung siapa coba? Drawing Pen, Cat Air. Ayuk Purwandari.
Tulisan Kota Magelang dr belakang saat di Alun-alun Magelang #baca pakai cermin :D Drawing Pen, Cat Air. Ayuk Purwandari.



Layar plasma yang ada di Alun-alun Kota Magelang. Drawing Pen, Cat Air. Ayuk Purwandari.