Wisatawan yang gemar berlibur ke Jogja, mungkin sudah berkali-kali ke Malioboro. Jalan yang terletak di jantung kota itu memang tujuan utama kaum wisatawan yang datang ke kawasan untuk menikmati suasana atau berbelanja. Namun, sebenarnya pesona Malioboro tak hanya itu. Ia juga merupakan wisata sejarah yang seru.

Fascade Malioboro. Drawing Pen, Cat Air. Erick Eko Pramono.
Malioboro merupakan jalan yang membentang antara Tugu dan Keraton Yogyakarta. Ia merupakan bagian dari Kawasan Keraton Yogyakarta, yang mempunyai luas 14.000 m2.
Asal kata Malioboro disebutkan berbeda oleh beberapa sumber. Ada yang berpendapat Malioboro berasal dari nama seorang Jenderal Inggris yang bernama Malbourgh yang dinamai oleh Raffles ketika berkuasa di Yogyakarta pada jaman pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono II. Namun, ada juga yang menyebutkan bahwa Malioboro berasal dari kalimat Mulyane Saka Bebara, yang berarti Kemulyaan dan Kejayaan Hidup yang dicapai lewat laku keprihatinan. Hal itu sesuai dengan cita-cita Sri Sultan Hamengku Buwono I.

Peserta Sketching&Sharing di Kawasan Malioboro, Yogyakarta.
Untuk meningkatkan antusiasme wisata sejarah di Maliboro, Minggu, 18 Maret 2012 lalu, Indonesia’s Sketchers Jogja menyeketsa bersama berbagai objek wisata sejarah di Malioboro. IS Jogja bekerja sama dengan Komunitas Greenmap Malioboro yang menyumbangkan peta serta penjelasan masing-masing bangunan untuk kami jelajahi. Berikut ini beberapa sketsa yang dihasilkan (keterangan berikut dari Greenmap Malioboro). Selain hasil sketsa pada hari Minggu lalu, juga ditambahkan sketsa tentang Malioboro yang telah dilakukan IS pada kesempatan lain.
Perumahan “Taman Joewana”
Lokasi: Jl. Dagen
Perumahan Taman Joewana (baca Yuwono) ada sejak 1938, didirikan pada masa kolonial Belanda. Untuk mencapai tempat ini, anda harus masuk di tengah pemukiman penduduk lokal di keramaian Malioboro. Tanah yang dihuni oleh warga Arab, India, China, Belanda dan orang asing lainnya ini merupakan tanah wakaf dari Keraton Yogyakarta.

Tanah yg diwaqafkan oleh Kraton untuk pemukiman bangsa asing. Dulu merupakan taman bunga, tapi sekarang sudah beralih fungsi menjadi lapangan tenis. Yang unik ada pada pintu tamannya, berupa tangan mengepal diatas burung hantu disertai gambar daun, serangga dan komodo (simbol-simbol ini sangat asing bagi org jawa) kemudian juga terdapat tulisan aksara jawa kuno. Di beberapa rumah disekitarnya kebanyakan memakai patung tangan mengepal tersebut di halaman depannya. 02 Drawing pen on A5 paper. Alaik Azizi.
Minimarket Indomaret “Chemist Drugist”
Jl.Maliboro No. 179
Pada masa Hindia-Belanda, bangunan ini berfungsi menjual berbagai macam obat. Pada 29 Juni 199, menjadi Apotik Kimia Farma. Saat ini beralih menjadi Minimarket Indomart. Tampak depan ciri bangunan lama masih dipertahankan.

Chemist Druggist. Drawing Pen, Cat Air. Erick Eko Pramono.
Jam Kota/Ngejaman/Stadsklok
Jl. Ahmad Yani, dekat Mirota Batik.
Jam kota terletak di tengah pertigaan, depan Gereja Protestan Margomulyo yang dikenal sebagai Ngejaman. Jam kota ini didirikan tahun 1916 sebagai persembahan masyarakat Belanda untuk memperingati satu abad kembalinya Pemerintahan Kolonial Belanda dari Pemerintah Inggris yang sempat berkuasa di Jawa. Tempat ini digunakan sebagai tempat janjian untuk bertemu di kalangan masyarakat.

Kawasan Ngejaman. Kertas Hawaii dan Tinta Bak. Irwan Sukendra.

Kantor Larisa. Tipe rumah Belanda, dekat kawasan Ngejaman. Tinta China pada Sketbuk A4. Richo Nurdini.
Benteng Vredeburg
Jl. Ahmad Yani No. 6
Benteng yang dibangun pada 1765 itu digunakan untuk mengawasi perkembangan Kesultanan Yogyakarta. Sempat berfungis sebagia markas pertahanan pasukan Jepang dan markas TNI pada masa kemerdekaan hingga 1992. Pada 1992, bangunan ini menjadi museum di bawah Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Benteng Vredeburg. Drawing Pen, Cat Air. Niken Anggrek Wulan.
Hotel Inna Garuda

Hotel Inna Garuda, Iman Sutejo.
Jl. Malioboro 60
Hotel Inna Garuda mempunyai sejarah pergantian nama sampai enam kali, Grand Hotel de Djogdja, Hotel Asahi, Hotel Merdeka, Hotel Garuda, Natour Garuda, dan sekarang Inaa Garuda. Pertama dibangun dengan bentuk cottage dengan nama Grand Hotel de Djogja tahun 1908 untuk tamu-tamu militer Belanda. Sempat diambil alih pemerintah Jepang (1938) dan menjadi Hotel Asahi sekaligus Percetakan “Matahari”. Saat Ibu Kota dipindahkan ke Yogyakarta, hotel ini digunakan sebagai Kantor Kabinet dan ketika Agresi Militer II tahun 1948 hotel ini merupakan markas tentara dipimpin Panglima Besar Jenderal Soedirman. Kamar No. 911 diabadikan sebagai Kamar Sudirman. Sejak Maret 2001, nama hotel menjadi Inna Garuda.
Societed
Jl Sriwedari No. 1
Dibangun sekitar akhir 1800 sebagai gedung pertemuan ikomunitas masyarakat Belanda. Bangunan yang sekarang ada menambahan bangunan di bagian belakang. Dari bangunan yang berdiri sekarang, 70%nya adalah tambahan. Bangunan aslinya hanya 30% yang terletak di bagian depan (tampak depan). Saat ini societed digunakan sebagai gedung pertunjukan yang merupakan bagian kompleks Taman Budaya Yogyakarta.
"Di bawah pohon beringin, berteduh" Makna pohon beringin sbg pengayom. Instansi pemerintah banyak memakai logo pohon ini dengan maksud dan tujuan mengayomi masyarakat #jadi geli :o Standing sketsa (iseng nutupin viewnya niken dan bimo) HVA A4 tipis. Ballpoint merchandise. Monocrome guitar, watercollour jadul. Padmana Grady Prabasmara.

Societed. Brush Pen, Cat Air. Niken Anggrek Wulan
Societed. Tinta bak, tusuk sate, kertas A4. Richo Nurdini.
Kediaman Kwan Nio Tio
Salah satu bangunan di daerah pecinan. Bangunan ini memiliki corak Eropa dibandingkan bangunan-bangunan di samping kanan-kirinya yang berbentuk khas China yaitu bangunan 2 lantai yang sebelah bawah digunakan untuk toko, sedangkan bagian atas untuk tempat tinggal. Di jalan Malioboro juga ada bangunan yang serupa dengan bangunan ini. 02 Drawing pen on A5 paper. Alaik Azizi.
Kantor DPRD Yogyakarta
Jl. Malioboro No. 54

Gedung DPRD. Drawing Pen 03, Cat Air, Kertas A4 Conqueror. Niken Anggrek Wulan.
Dibangun pada 1878 sebagai tempat berkumpul Theosofi Belanda Cabang Yogyakarta yang berpusat di Batavia. Merupakan perkumpulan aliran kebatinan untuk memanggil roh-roh orang yang sudah meninggal. Karea itu, gedung ini terkenal pula dengan nama Loji Setan atau Gedong Setan. Gedung yang kini berfungsi sebagai kantor DPRD ini pernah disinggahi Gubernur Jenderal Raffles pada 15 Mei 1912 saat Belanda berkuasa di Yogyakarta.
Pasar Beringharjo
Pasar Beringharjo merupakan pasar terbesar di Yogyakarta. Pasar merupakan salah satu bagian dari rancang bangun pola tata kota Kasultanan Yogyakarta. Pola itu biasa disebut Catur Tunggal. (Catur=empat; tunggal=satu) yang merupakan cakupan empat hal: Keraton (pusat pemerintahan), Alun-alun (ruang publik), masjid (tempat ibadah), dan pasar (pusat transaksi ekonomi). Sebelum tahun 1758, kawasan ini merupakan hutan beringin. Setelah berdirinya Keraton, kemudian dijadikan tempat jual beli oleh warga Yogyakarta. Selanjutnya pada 24 Maret 1925 dibangun sebuh pasar yang lebih representatif oleh Neerlansh Indisch Beton Maatschappij (Perusahaan Beton Hindia Belanda) yang membangun los-los pasar. Beringharjo berasal dari kata bering (beringin) dan harjo (kesejahteraan). (Sumber Tasyriq Hifzhillah jogjatrip.com).
Pasar Beringharjo dari Jl. Pabringan, sebelah selatan. Nggambarnya deket jemuran iwak peyek :) Drawing Pen, Kertas. Fauzi Muslim.

BBM naik turunkan BBM. BBM naik rakyat sengsara. Sketsa Pasar Beringharjo nangkring di samping Mirota Batik. sambil liat orang pada demo BBM. Sketchbook A4 kertas hawai (buatan sendiri) +gel pen+tinta cina. Supriyanti.
Suasana depan Pasar Beringharjo yang ramai. Drawing pen. Urip Tri Hasanah.

Pasar Beringharjo..."Harga BBM naik, rakyat sengsara!" (malah ini yg keinget). Critanya sketsa sambil ndengerin demo pesimistis kenaikan BBM. Drawing Pen, Cat Air. Shinta Rakhmawati.
Kawasan Pecinan, Jl. Ketandan

Ketandan Lor, bagian tertua di Pecinan Ketandan. Dulu, atas ijin Sri Sultan HB II komunitas Tionghoa menetap di utara pasar Bringharjo. Keuletan mereka dalam berdagang diharapkan dapat mendorong aktivitas pasar Bringharjo yang merupakan pusat kegiatan ekonomi pada masa itu. Dan kini, jalan Lor Pasar ini benar2 padat, pedagang kaki lima yang berjualan emas, barang jadul, uang kuno ikut menambah hiruk pikuk di sepanjang jalan ini. Karena aktivitasnya yang selalu ramai dan aksesnya yang sulit dilalui kendaraan bermotor, rumah toko pecinan di sini hanya sedikit mengalami renovasi sehingga masih banyak yang asli.
Media gambar: kertas A4, tinta cina, bambu, drawing pen 02. (bambunya bujel, jadi untuk garis tipis pake drawingpen). Pipit Puspita.
Pengepul emas di pinggir toko Jl. Ketandan. Tinta, kuas dan air. Hendro Purwoko.
Sumber tentang Malioboro: Heryanto, Mas Fredy. 2009. Mengenal Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Yogyakarta: Warna Mediasindo.