Sabtu, 03 Maret 2012

Ekspresif dengan Tinta

Minggu lalu Indonesia’s Sketchers Jogja kembali mengadakan belajar bersama. Irwan Sukendra, pelukis, membagikan ilmunya dengan senang hati kepada peserta IS lainnya.

Pria yang pernah mengecap pendidikan di Institut Seni Rupa jurusan Seni Lukis itu membeberkan pengalamannya menggunakan tinta bak atau tinta cina. “Pertama kadang menakutkan, tapi kalau sudah bisa memanfaatkan efek dari tinta cina, justru kita bisa memanfaatkannya untuk mewakili emosi kita,” tutur laki-laki kelahiran 11 Januari itu.


Dengan tinta bak kita bisa mendapatkan ekspresi, gelap terang, jauh dekat, dalam atau dangkal dari segi tekstur, yang tidak bisa kita dapatkan dari media yang ‘teratur’ seperti bolpoin.

Sejatinya teknik-teknik yang dibagikan Irwan tidak diajarkan di kampusnya. “Kalau sudah menggunakannya, lama-lama kita akan mengerti di mana kesulitannya, sehingga berbagai masalah bisa ketemu jalan keluarnya,” jelas Irwan.


Sebelum memulai menyeket, persiapan alat penting agar mood tetap terjaga. Alat yang macet, tumpul, membuat sketsa yang akan dibuat kehilangan kesempatan. Terlalu menyiapkan alat membuat kehilangan momen misal karena hujan atau langit yang sudah gelap.

Beberapa alat yang disiapkan adalah:

a. Bambu kecil. Bambu berdiameter sekitar 4 mm yang dibentuk sedemikian rupa sehingga bisa maksimal menampung tinta. Gunakan bambu pagar yang sudah mengering dan keras. Agar kapasitas tampung lebih banyak, masukkan beberapa helai benang nilon atau kapas di dalam bambu, lem ujungnya agar merekat. Dibanding alat lainnya, bambu lebih elastis sehingga sketsa yang dihasilkan bisa lebih ekspresif.

b. Track pen. Untuk menampung tinta yang lebih banyak, tempatkan beberapa helai benang nilon yang dilembarkan di dalam track pen. Rawat track pen dengan cara menyemprotkan air, mengelap dengan kapas, kain atau tissue dan lumuri dengan oli agar tidak berkarat seusai digunakan. Untuk menggunakan track pen, keterampilan tangan atau kelenturan tangan lebih banyak dibutuhkan dibanding ketika menggunakan bambu.

c. Tinta cina atau tinta bak. Pastikan tinta tidak mengendap atau menggumpal yang dapat mengganggu alat. Untuk mengatasi tinta yang menggumpal caranya aduk, saring dan encerkan tinta bak. Jangan terlalu encer yang dapat menyebabkan ‘mblobor’.

Tinta yang disarankan adalah tinta kemasan kuning. Tinta yang baik warnanya bergradasi hitam, yaitu gradasi hitam tua ke hitam yang lebih muda. Sedangkan tinta yang kurang baik mempunyai efek hitam keunguan ketika digoreskan di dalam kertas. Selain itu ketika digoreskan pecah-pecah, tidak elastis.

Untuk memudahkan membuka tutup wadah tinta, ganti seal plastik tinta dengan karet bundar atau busa, sehingga memudahkan kita ketika membuka tutup tinta. Agar tidak mudah tumpah, gunakan karton yang dibuat penyangga melingkar, sehingga tinta tidak mudah tumpah ketika tersenggol.

d. Tempat untuk menambatkan track pen. Kita dapat membuat sendiri tempat untuk menambatkan track pen supaya tidak mudah jatuh saat kita gunakan. Gunakan tempat hair gel bekas, dan masukkan spon yang berukuran sama. Tempatkan track pen di dalam busa tersebut ketika menyeket di lokasi.

e. Kertas. Kertas yang bermutu adalah kertas yang tidak rapuh. Cara mengetesnya, teteskan beberapa tetes air di atas kertas tersebut. Salah satu ciri kertas yang baik adalah tidak akan langsung menyerap air. Selain itu kertas juga tidak akan mudah hancur atau ‘mbradhil’ ketika ditetesi air.

Kertas yang bermutu kurang bagus akan bermasalah saat di sket. Alat sket bisa menusuk kertas sehingga hasilnya kurang baik. Kertas yang bermutu juga membuat tarikan menjadi lebih pendek, karena terlalu banyak menghisap tinta. “Skill kita lebih mahal dari kertas, jadi pakailah kertas yang bagus,” nasihat Irwan.

f. Air. Bawalah air matang yang dimasukkan di dalam botol spray. Gunakan untuk membersihkan alat setelah digunakan.

g. Suntikan bekas tinta print. Suntikan berguna untuk menyedot tinta yang tumpah di lantai. Karena apabila di lap, tinta malah merata di lantai. Kebersihan tempat sesudah menyeket penting, karena dapat menyebabkan seniman lain terkena imbasnya, karena dianggap menyampah juga. Oleh sebab itu sebisa mungkin kembalikan tempat semula rapi seperti semula.

h. Kontainer. Tempatkan semua peralatan dalam satu kontainer yang tertutup. Lapisi dengan plastik supaya menghindari kebocoran.

Setelah menjelaskan tentang alat, Irwan menjelaskan sketsa ala seni murni. “Sket sendiri ada bermacam-macam, dan masing-masing punya kepentingan sendiri-sendiri. Yang biasa dipajang di galeri atau museum biasanya sketsa murni atau berorientasi pure art, artisitik, sehingga ketepatan bukan sesuatu yang diharuskan. Sket di dalam seni murni bukan menggambar bentuk lagi, tapi lebih menggambarkan atau mengekspresikan rasa,” jelas Irwan.

Apabila ingin mendapatkan karya yang spontan tanpa kehilangan momen, coba untuk melakukan ‘potretan’ dengan mata. Setelah melihat objek, coba pejamkan mata, maka objek yang tadi terlihat masih terekam di benak kita. Hal itu membuat kita lebih lama mengingat. Kalau diamati satu-satu per bagian tentu cepat hilang dari ingatan, apalagi bisa mengamati sebuah objek bergerak. Hal itu bisa dilatih. Setelah lancar menggambarkan bentuk dasarnya, kemudian teruskan ke detailnya.

Selain itu, untuk membantu merekam objek, sebelum menyeket ada baiknya kita amati objeknya selama beberapa saat. Misal menyeket kuda, kita amati dulu bagaimana gerak kakinya, wajahnya, dsb. Seperti yang dilakukan pelukis Affandi misalnya, di pinggir pantai, sebelum melukis ia duduk setengah jam, mengamati, dan memasukkkannya dalam otak dan perasaan. Ketika sudah merasa cukup, baru ditumpahkan di atas kanvas sambil sesekali melihat objek. Akhirnya timbul karya yang spontan.***

Hasil latihan:
Pedagang pecel dan sate di Jalan Malioboro, Tinta Cinta, dan Pen. Iman Sutejo.



Menara gedung ex De Javasche Bank. Media Kertas A5 (kegambar separo), tinta bak, bambu. Pipit Puspita.
Nol KM Yogyakarta bersama teman-teman IS Jogja hari Minggu pukul 4 sore. A4 Sketchbook, Tusuk Sate, Tinta Cina. Fauzi Muslim.

Gambar 1: Para pengamen yang mangkal di KM 0. Mereka sedang asyik berkumpul di bawah terangnya lampu Jogja. Menikmati dinginnya Jogja yang setiap sore hujan. Sket bareng Irwan Sukendra, hanya ber empat karena yang lain sudah pulang. Sketchbook A5, Tinta Cina, Tusuk Sate.

Gambar 2: Suasana Ngejaman yang kian semakin padat merayap. Sketsa sambil menikmati gerimis, menikmati gretongan brownies dari Mbak Niken dan salad dari dek Nurul Haida. Makasih ya...

Supriyanti.

Lampu di KM 0, Yogyakarta. Tinta Bak, bambu, dan Kertas Conqueror.


Bercinta bersama tinta, sore-sore, di Ngejaman, Malioboro Yogyakarta. Nurul Haida.


Nyeket bareng di sekitar Ngejaman, Malioboro, Yogyakarta. Gerimis makin deras. Akhirnya menyerah dan berteduh. Irwan Sukendra. Kertas Hawaii dan Tinta Bak.

2 komentar:

  1. bagus sekali mba nik. .. .. :)menambah pengetahuan dan ilmu kanuragan. .. ..

    BalasHapus